1 tahun lalu, aku pernah menulis dengan judul yang sama.
Aku lupa alasan mengapa aku menulisnya, tapi aku masih ingat "rasa" dalam tulisan itu. Betul, kurang lebih seperti saat ini, saat dimana aku menulis ulang tulisannya.Sebenarnya, aku bukan satu-satunya manusia tersedih dimuka bumi ini, hanya saja aku menipu daya dan melemahkan hati karna ternyata kapasitasku tidak bisa mengimbangi.
Padahal kalau di ingat-ingat, apasih yang membuatku sedih? kalau kata orang, aku masih punya orangtua lengkap, badanku pun sempurna tidak ada cacat ya meskipun kurang tinggi sih hehe, selain itu aku sudah punya suami dan beliau pun amat sayang padaku. "ah emang dasarnya gak bersyukur aja" ucap mereka yang sejatinya hanya tau teras depan rumahku saja.
Mungkin sekali-kali mereka harus ku ajak masuk rumah dan ku tawari kopi ya, biar mereka tak hanya memandang rumahku dari luar.
Tidak ada yang salah dari apa yang mereka katakan, aku memang memiliki banyak hal yang patut ku syukuri, tapikan mereka tidak tau hal-hal lain lagi yang membuatku sedih?
Contohnya seperti, bagaimana aku dibebani dengan ekspektasi yang begitu besar beserta harapan yang tidak bisa aku gagalkan. Jujur, bicara soal "ekspektasi" aku tidak tau bagaimana cara memperkecil makna ini.
Sampai-sampai ku tanyakan dalam tulisan sebelumnya "rumah mana yang harus ku pulangi?" ya. Aku tidak memiliki rumah untuk pulang dengan aman. Sekalipun itu orang tua.
Karna apa yang mereka tanamkan dalam pikiran anak pasti akan membekas, sekecil apapun itu. Yang kemudian akan mempengaruhi sikap anak itu sendiri kepada orang tua.
Sering sekali ku tanyakan pada diri sendiri, bukankah aku juga manusia? memiliki hati dan pikiran, bisa merasakan sakit dan tertekan, ku pikir itu normal.
Lalu, apakah bagi mereka aku hanya sebuah karya untuk merealisasikan semua ekspektasinya saja? yang katanya "tidak boleh gagal", "tidak boleh cengeng", "liat deh anak sebelah selalu bantu keuangan orangtuanya", dan atau "kamu harus jadi ini ya nanti.." it's hurt.
Hidup dalam keinginan orang lain itu lebih menyakitkan dari hal apapun. benar-benar sangat menyakitkan. sampai tidak bisa ku definisikan.
Mereka seperti tampak mudah memberi tekanan pada setiap ucapannya, padahal mereka tidak tau aku sudah cukup babak belur untuk memenuhi segala ekspektasinya.
Bertahan hidup saja sudah sulit, apakah itu tidak cukup?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar